Wisata

  1. Rumah Godang

Rumah Godang merupakan peninggalan adat yang penting dalam kehidupan masyarakat Koto Sentajo. Empat suku yang bermukim di desa ini masing-masing diwakili dengan bangunan empat rumah godang. Dengan demikian, terdapat rumah godang Chaniago, rumah godang Piliang, rumah godang Pitopang, dan rumah godang Melayu.

Rumah Godang Chaniago

Fungsi utama dari rumah godang ini adalah sebagai rumah tinggal ahli waris, sekaligus balai pertemuan bagi masing-masing suku untuk membahas berbagai persoalan adat serta sosial kemasyarakatan. Rumah Godang akan ramai saat lebaran tiba. Seluruh sanak kerabat yang bersuku sama  mengadakan pertemuan di balai adat masing-masing dan mengadakan acara bersama untuk merayakan hari suci umat Islam ini. Beberapa acara adat lain, seperti pernikahan dan penetapan sanksi pelanggaran adat juga dilakukan di rumah ini

Rumah Godang Piliang dan Pitopang

Setiap rumah godang memiliki ciri khasnya tersendiri. Bangunan memiliki 20 tiang dengan 3 ruangan utama, yaitu ruangan ninik mamak, ruangan kemenakan, dan ruangan belakang untuk kaum perempuan. Luas bangunannya sekitar 12 x 6 meter². Adapaun luas tanah secara keseluruhan berukuran 18 x 20 meter.

Rumah Godang Secara Umum

2. Situs Masjid Tua Persukuan Koto Sentajo

Perkampungan Rumah Godang dilengkapi dengan masjid tua yang bernama Masjid Raudhatul Jannah. Masjid ini konon telah berdiri sejak 1864 Masehi. Bentuk bangunannya masih dipertahankan hingga saat ini, kecuali dilakukan pergantian bahan bangunan yang telah lapuk dengan semen. Selain memiliki atap yang bersusun tiga, di dalam bangunan utama masjid dapat ditemukan 17 tiang penyangga yang menggambarkan tetua dalam empat persukuan. Masing-masing dari persukuan diwakili dengan 4 buah tiang, yang mewakili posisi penghulu, monti, dubalang, dan tungganai. Sebuah tiang utama ynag terletak di tengah ruangan merupakan tiang tertinggi dan terbesar di antara tiang lainnya. Tiang utama ini dalam pandangan masyarakat setempat disimbolkan sebagai Nabi Muhammad saw. Adapun keempat tiang lainnya merupakan simbolisasi keempat sahabat nabi yang menruskan pemerintahan Islam setelahnya, yaitu Sayyidina Umar bin Khatab, Sayyidina Abu Bakar as Shidiq, Sayyidina Ustman bi Affan, dan Sayyidina Ali bin Abu Thalib.

Masjid Tua Koto Sentojo

Pandangan lain yang disampaikan infroman menerangkan bahwa keempat pilar tengah dan tiang utama menyimbolkan rukun Islam yang lima. Selain itu, tiang-tiang masjid menyimbolkan pula kerukanan suku-suku yang membangun kenegerian Koto Sentajo, yaitu meliputi Islam sebagai pengikat persaudaraan dengan simbol tiang utama, lalu keempat suku, yang disimbolkan dengan dengan 4 tiang tangah, serta 16 tiang luar yang menyimbolkan keenam belas penguasa tertinggi adat kenegerian Sentajo.

Tiang dalam Masjid Koto Sentajo
  1. Maelo Jalur

Maelo jalur merupakan tradisi yang terus dijalankan oleh penduduk yang bermukim di ranah Rantau Kuantan. Setiap desa di kabupaten ini memiliki jalur masing-masing yang diperlombakan dalam event tahunan pacu jalur. Begitu pula dengan tradisi maelo jalur yang diadakan oleh setiap desa untuk menarik jalurnya masing-masing ke dalam desa. Tradisi ini sudah mulai menghilang saat ini sebab tenaga manusia telah tergantikan dengan mesin. Namun begitu, ritual untuk mencari pohon yang akan dijadikan jalur masih dipegang teguh oleh masyarakat.

  1. Tradisi perayaan hari raya Idul Fitri di Rumah Godang

Tradisi perayaan Idul Fitri ini akan dijumpai di rumah Godang pada hari kedua lebaran. Pada hari tersebut juga akan ditampilkan beragam kesenian daerah, termasuk randai. Randai merupakan tarian silat khas yang berasal dari Sumatera Barat.  Warga anggota suku yang kebetulan tinggal di luar desa akan menyempatkan pulang dan berkumpul bersama sanak kelaurganya. Satu hal utama yang harus ditaati dalam keanggotaan persekutuan adalah tidak boleh mengosongkan rumah Godang. Apabila hal ini dilanggar, maka seluruh ahli waris harus membayar hutang kepada kepala suku dan kepada desa.